Kamis, 24 Oktober 2019

Pencarian Naskah Kuno Daerah Lombok NTB



Naskah Kuno dari Lombok

Naskah kuno daun lontar
Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat berbahagia semuanya. Saya Rizka Yuni Mantia Kapoor akan berbagi pengalaman dan sedikit bercerita tentang naskah kuno.
Semoga kalian semua menikmati tulisan pertama saya ini ya!!
Berbicara tentang kebudayaan, Lombok salah satu tempat yang masih memiliki adat dan budaya yang masih kuat. Salah satunya tentang Naskah kuno takepan sasak yang sudah ada dari zaman dahulu. 
Naskah kuno adalah benda budaya yang merekam informasi dan pengetahuan masyarakat lampau yang di turunkan secara turun temurun semenjak dulu sampai saat ini. naskah kuno zaman dahulu di tuli di atas daun lontar.


Pada awal mula perjalanan saya mencari naskah kuno (takepan)  dari Lombok. Awalnya saya meminta bantuan kepada kakak tingkat yang bernama Andi semester 7 untuk menemani kami ke tempat Mamiq Nasib yang memiliki naskah kuno di daerah Kuripan. Saya meminta bantuan kepada kak Andi atas rekomendasi dari seorang kakak tingkat juga yang bernama Kak Intan, berhubung kak Andi tempat tinggalnya berada di Kuripan dan juga mengenal daerah Kuripan maka kak Intan menyarankan kami untuk bertemu dan meminta bantuan kepada kak Andi. Pada awalnya kami membuat kesepakatan untuk mencari naskah kuno di Kuripan pada tanggal 23 Oktober pukul 16.00. Namun H-2 dari perjalanan kami untuk mencari naskah kuno, teman saya Siti Syarah menelpon dan mengatakan bahwa ayahnya memiliki teman dan temannya itu memiliki kenalan yang mempunyai naskah kuno di daerah mapak, loang baloq dan itu jauh lebih dekat dari tempat tinggal kami. Maka kami memutuskan untuk pergi ke daerah mapak, saya selaku orang yang meminta bantuan kepada kak Andi pun meminta maaf karena perjalanan kami untuk mencari naskah kuno di daerah Kuripan dibatalkan karena alasan tersebut.
Saya, keempat teman saya dan bapak Wasiah
Lalu pada tanggal 22 Oktober 2019 pukul 16.00 saya bersama keempat teman saya yaitu Siti Syarah, Rizka safira Ramadhanti, Mutiara Kurnia Rahmi dan Muhammad Alwan berkumpul dan berjalan ke Mapak, loang baloq untuk mencari Bapak yang memiliki naskah kuno tersebut. Kami berkumpul di depan Pantai loang baloq untuk menunggu teman dari ayah Siti Syarah yaitu bapak Ustaz Ilham Husein yang tinggal di daerah Dasan Agung Mataram. Kami menunggu sekitar 30 menitan di depan Loang baloq, tapi ternyata bapak Ustaz Ilham Husein menunggu di daerah lainnya, dan saya beserta teman-teman saya menghampiri bapak Ustaz Ilham. Setelah kami semua berkumpul bersama, Pak Ustaz Ilham membimbing kami untuk menemukan rumah bapak yang mempunyai naskah kuno tersebut . Dan akhirnya kami sampai di rumah beliau pada pukul 17.00. Kami diperkenalkan oleh Bapak Ustaz Ilham kepada Pak Wasiah selaku tokoh masyarakat yang memiliki naskah kuno. Beliau sangat ramah dan menerima kami dengan sangat sangat baik. Lalu kami memperkenalkan diri kami ke bapak Wasiah serta tujuan kami mendatangi beliau. Kami dipersilahkan duduk dan perbincangan pun terjadi.
Saya dan Bapak Wasiah
Bapak Wasiah selaku pemilik naskah kuno (takepan) itu berumur 85 tahun dan tinggal di desa Mapak Belatung, kelurahan Jempong Baru Mataram NTB. Beliau memegang naskah kuno tersebut sejak tahun 1945. Semenjak beliau masuk sekolah dasar, pada saat itu umur beliau masih 10 tahun. Beliau diwariskan oleh nenek moyangnya dan naskah kuno tersebut sudah 75 tahun di pegang oleh bapak Wasiah. Pak Wasiah pun berenca akan mewariskan naskah kuno itu kepada anak-anaknya. Pak wasiah mempunyai 1 anak laki-laki dan 2  anak perempuan. Naskah kuno yang di pegang oleh pak Wasiah ini sudah ada sebelum Masehi, ketika tahun Saka.  Sebelum menceritakan isi dari naskah kuno tersebut, bapak wasiah memberitahu kami macam-macam naskah kuno yang ada seperti naskah kuno (takepan) Menyeh menceritakan tentang Sumbawa, Lombok dan Bali. Indar Jaye tentang pengajian-pengajian dan agama. Cilinaye menceritakan tentang Lombok Bayan. Dewi anjani menceritakan tentang Lombok.

Setelah itu beliau memperlihatkan naskah kuno (takepan) yang dimilikinya. Naskah kuno yang dimiliki oleh pak Wasiah di tulis di atas daun lontar, dan sudah memiliki salinan yang di tulis di buku pada umumnya. Ada juga naskah kuno yang sudah disalin sendiri atau di tulis tangan oleh pak Wasiah di buku tulis biasa. Naskah kuno (takepan) yang dimiliki pak wasiah itu adalah takepan Pustaka Indar Jaye dengan judul tembang Dang Dang Gula. Biasanya digunakan untuk acara khitanan dan akikah. Naskah kuno tersebut membahas tentang peradaban islam pada zaman dahulu. Beliau membacakan kami bagian mukadimah atau pendahuluan dari naskah kuno tersebut dengan lantunan nada yang merdu, suara tembangan yang di lantunkan oleh pak Wasiah membuat saya merasa tenang. Tembang yang di bacakan itu memiliki arti tentang solat 5 waktu. 
Salinan naskah kuno
Arti dari tembang yang dibacakan oleh pak Wasiah yaitu perbatasan orang-orang yang beriman ditandai dengan solat 5 waktu yaitu subuh,dzuhur,asar,magribh dan isya yang jumlah rakaatnya 17 dalam sehari semalam. Itu merupakan tanda-tanda manusia yang memiliki pengabdian besar dan ingin meminta pengampunan kepada Allah SWT dengan menjalankan solat 5 waktu dan pastinya Allah SWT juga memiliki pengampunan yang besar terhadap hambanya. Kasih sayang Allah SWT kepada semua hambanya sama rata, hanya saja yang membedakan kita di hadapan Allah SWT adalah amal. Barang siapa yang tidak lupa kepada Allah pasti akan mengerjakan solat 5 waktu dan insyaallah akan diselamatkan di hari akhir jika kita tidak lupa mengerjakan solat. Jika sudah berbakti kepada Alllah, kepada nabi, kepada ibu bapak, kepada nusa dan bangsa insyaallah kita akan diselamatkan dari dunia hingga ladang akhirat. Inti dari mukadimah yang dibacakan itu adalah bagaimana cara kita beriman kepada Allah SWT karena kita semua merupakan makhluk ciptaan-Nya. Pada zaman dahulu orang-orang sering sekali membaca naskah kuno yang ada, dan itu membuat mereka bahagia ketika membacannya. Di dalam satu naskah (takepan) memiliki batasan batasan tembang atau memiliki sub judul di setiap babnya. 

Pak Wasiah juga memberi tahu kami bahwa ada 13 macam tembang yang ada, namun yang sering di gunakan di Lombok ada 9 macam tembang, yaitu :
Sinom, ketika kita masih kecil.  
Asmaran Dana, laki-laki boleh mencari pasangan begitupun dengan perempuan.
Dhurma, ketika laki-laki dan perempuam bersatu.
Pangkur, ketika wanita ngidam.
Dang-dang, ketika perut wanita hamil sudah mulai membesar.
Kumambang, yaitu bersedih apakah hidup atau akan mati tatkala akan melahirkan.
Mijil, yang berarti lahir.
Pucung yaitu tatkala wanita menyusui.
Megatruk, yaitu ruh dan jasad terpisahkan.
Kami juga diberitahu tentang sejarah bulan dalam islam. 12 bulan dalam islam tersebut ialah
1.Muharram
2. Safar
3. Rabi’ul Awal
4. Rabi’ul Akhir
5. Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir
7. Rajab
8. Sya’ban
9. Ramadhan
10. Syawal
11. Dzulka’dah
12. Dzulhijah
Pak wasiah juga memberitahu kami adat-adat atau kebiasaan yang masih melekat dan sering dilakukan oleh umat muslim di bulan-bulan tertentu. Pak Wasiah juga menjelaskan cara pembuatan Naskah kuno (takepan) pada zaman dahulu. Naskah kuno zama dahulu ditulis di atas daun lontar.  Daun lontar itu di rebus. Daun lontar di potong. Daun lontar di keringkan. Daun lontar di jepit menggunakan alat, agar daunnya lurus.Daun lontar di beri garis, agar apa yang akan di tulis tetap lurus atau sejajar dengan yang lainnya dan terakhir di atas daun lontar tersebut di beri tulisan.
Orang zaman dahulu menulis naskah kuno di atas daun lontar menggunakan sesuatu yang ujungnya tajam berbentuk seperti kail atau ujung pisau. Mereka menggunakan kemiri sebagai tintanya. Kemiri tersebut dihancurkan dan di bakar agar bisa menjadi tinta.
Mungkin itu saja pengalaman yang bisa saya bagikan kepada teman-teman dunia maya yang saya sayangi. Semoga bisa dijadikan pelajaran dan bisa menambah wawasan teman-teman sekalian. Jangan lupa dengan kebudayaan daerah kalian masing-masing ya people!